EBTKE

Industri Semen

EBTKE
Penghematan Energi

2.214.833 Gjoule*

*Berdasarkan Pelaporan Tahun 2013 - 2019

Industri semen di Indonesia memegang peranan yang cukup penting pada periode pembangunan infrastruktur di Indonesia, sehingga tidaklah mengherankan bahwa kapasitas produksi semen di Indonesia cukup tinggi yaitu mencapai 113 Juta Ton1. Namun kapasitas produksi yang tinggi tersebut tidak diikuti dengan kebutuhan (demand) yang hanya sekitar 70 Juta Ton pada tahun 20181, atau ada surplus sebesar 41 juta Ton.

Secara global, intensitas energi untuk memproduksi semen akan semakin turun dikarenakan penerapan teknologi baru yang lebih efisien (seperti mengganti wet proses kiln menjadi dry proses kiln). Intensitas energi global untuk produksi semen adalah sekitar 3,4 GJ/t pada tahun 20182. Berdasarkan studi dari UNIDO terkait benchmarking di industri semen dengan menggunakan teknologi yang paling advance, intensitas energi dalam produksi semen dapat mencapai 2,9 GJ/t 3

Tabel berikut ini memberikan benchmarking intensitas konsumsi energi untuk industri semen.
 
Produk Intensitas Konsumsi Energi
Semen    3,49 GJ/ Ton
Klinker      3,57 GJ/ Ton

Sumber energi pada industri semen masih didominasi oleh penggunaan energi fosil yaitu batu bara yang mencapai 90% sedangkan penggunaan energi terbarukan yaitu biomassa baru 1%5. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam industri semen berkaitan dengan konservasi energi dan penurunan emisi karbon antara lain :

Penggunaan peralatan seperti motor, pompa dan kompressor yang memiliki efisiensi tinggi dan perawatan peralatan secara rutin dapat mengoptimalkan penggunaan energi:
  • Penggunaan waste product dalam proses produksi dapat menurunkan pemakaian bahan bakar serta menurunkan emisi seperti contohnya penggunaan steel blast furnace slag pada produksi semen atau menggunakan waste product dari industry lain sebagai bahan bakar alternative pada proses produksi2.
  • Implementasi sistem manajemen energi menjadi hal yang utama dalam mencapai target efisiensi energi. Beberapa hal yang sering terjadi pada perusahaan yang tidak menerapkan manajemen energi adalah terjadinya perbedaan pendapat antara top management atau direksi dengan penanggung jawab energi sehingga temuan atau finding terkait efisiensi energi tidak dapat dilaksanakan. Selain itu belum diterapkannya sistem manajemen energi, kegiatan efisiensi energi cenderung tidak terarah dan sporadis sehingga konsumsi energi berpeluang untuk mengalami peningkatan kembali3
 

Daftar Pustaka

  1. http://www.sureplus.id/2019/11/18/peningkatan-kapasitas-semen-di-indonesia-mencapai-113-juta-ton/
  2. http://www.iea.org/reports/cement
  3. Global thermal energy intensity and fuel consumption of clinker production,IEA
  4. Benchmarking Report for Cement Sector – Industrial Energy Efficiency Project UNIDO. 2014
  5. Energy Efficiency Improvement and Cost Saving Opportunities for Cement Making – Energy Analysis Department. University of California. 2008
  6. Pelaporan Online Manajemen Energi – KESDM. 2019

BANTUAN LEBIH LANJUT

Silahkan Menghubungi Kami Melalui Website Sinergi